BERITA INDEX BERITA

Petani Merapi Mulai Bertani dengan Ramah Lingkungan

Humaniora | DiLihat : 1058 | Rabu, 21 Juni 2017 12:36
Petani Merapi Mulai Bertani dengan Ramah Lingkungan

Lagu terkenal Koes Plus, Kolam Susu, seakan menjadi mars penggelora batin anggota Kelompok Tani Sedulur Merapi, Desa Ngargomulyo, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, di kawasan Gunung Merapi. Inilah sebagian syair yang mengena bagi mereka orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman.

Kelompok tani itu, menemukan salah satu bukti penting kebenaran syair lagu tersebut berupa tanah subur di kawasan Merapi. Areal pertanian mereka yang subur di desa terakhir sekitar enam kilometer barat daya puncak Gunung Merapi, antara lain karena pengaruh abu vulkanik, didukung pasokan air berlimpah serta udara sejuk, bagaikan irama harmoni pengiring lantunan tembang itu.

“Lagu itu menyemangati kami untuk mengolah pertanian ini. Tanah ini subur dan harus dijaga kesuburannya,” kata Sibang, Ketua Kelompok Tani Sedulur Merapi, di Kecamatan Dukun itu, baru-baru ini.

Berdasarkan karakter alamnya, pertanian di kawasan Gunung Merapi selama ini dikelola petani setempat untuk budi daya berbagai hortikultura. Kehidupan sehari-hari mereka tetap sederhana, namun berdaulat sebagai petani desa yang bergaul dengan sesama, komunitas, dan lingkungan alam Merapi. Batin dan pikiran mereka terus bergerak untuk membuat kekuatan pertaniannya terus berkelanjutan.

Model pertanian organik mereka patrikan selama ini, untuk memperteguh kedaulatan dalam menjaga kesuburan tanah. Pengelolaan pertanian organik bukan sekadar mereka membebaskan diri dari penggunaan bahan-bahan pertanian berunsur kimiawi, baik untuk keperluan pemupukan maupun menghadapi serangan hama serta penyakit.

Pupuk Kompos Mereka memastikan diri menggunakan pupuk kompos dan pupuk cair buatan sendiri. Mereka juga beternak karena kotorannya menjadi bahan utama pembuatan pupuk dan kompos. Kemungkinan serangan penyakit dan hama pertanian, sebagai keniscayaan yang tidak harus mereka matikan atau berantas, namun diantisipasi dan diminimalkan dengan cara-cara organik pula.

Hubungan kemitraan dengan penyalur panenan mereka di salah satu kios di Pasar Kranggan Kota Yogyakarta juga dijaga dengan tidak menggampangkan memutuskan menerima pembeli sayuran organik lain secara langsung di kebun pertaniannya. Mereka memastikan komitmen kedua pihak tentang produk organik, jumlah pasokan yang terbatas dan kepercayaan terhadap posisi harga terbaru.

Begitu pula kepentingan regenerasi petani organik. Mereka rintis dengan keikutsertaannya sebagai pelaku utama sekolah sawah yang dibuka salah satu sekolah dasar swasta di desa itu. Para murid sekolah itu yang kalangan anak-anak setempat juga menjadi pegiat sekolah sawah.

Salah satu puncak perjalanan kedaulatan para petani Sedulur Merapi berupa penerapan pola tanam tumpang gilir. Mereka merintisnya sejak enam bulan terakhir. Istilah tumpang gilir masih terus mereka perbicangkan untuk menemukan ketepatannya. Sibang dan kawan-kawan masih memikirkan istilah lainnya yang dipandang lebih tepat, seperti tumpang gulir atau sistem rotasi.

Begitu tanaman pokok dan pendukung dipanen semua maka bedengan kosong dan petani mulai mengolah lagi untuk penanaman berikutnya. Pada pola tumpang gilir, tambah Sibang, semua komoditas sayuran berstatus sebagai tanaman pokok yang bakal dipanen bergilir.

Sebanyak tujuh di antara puluhan anggota kelompok itu, yakni Sibang, Longgar, Maryono, Riyadi, Tarsisius, Kartin, dan Gimin, merintis pertanian tumpang gilir di areal masing-masing, termasuk di sebagian lahan sekolah sawah untuk anak-anak setempat.

Mereka, petani di empat dusun di Desa Ngargomulyo, yakni Dusun Gemer, Tangkil, Ngandong, dan Batur Ngisor. Luas lahan untuk tumpang gilir penanaman sayuran mereka yang menggunakan green house itu berbeda-beda, namun umumnya macam-macam sayuran yang dibudidayakan hampir sama.

Riyadi yang bekerja di SD Prontakan, Desa Ngargomulyo yang murid-muridnya berkecimpung dalam sekolah sawah, memulai tanam pola tumpang gilir, baru sejak akhir Mei lalu. Ia tanami sebagian dari 500 meter persegi areal pertaniannya dengan pola itu. “Belum panen, saya tanam kailan, selada, dan lettuce. Pak Sibang banyak menyampaikan prakarsa dan pemikirannya kepada kami,” katanya.

Di areal pertaniannya seluas 100 meter persegi, Longgar menanam dengan pola itu, antara lain selada, bayam merah, centhol, dan sawi sendok. Setiap satu minggu, ia satu kali tanam sayuran. Dia masih tahapan satu minggu sekali panen. “Arahnya tentu setiap hari panen. Jumlah yang dipanen sedikit-sedikit, tetapi berkelanjutan, dengan harga lebih tinggi daripada sayuran umumnya atau yang nonorganik,” ujarnya.

koran-jakarta.com


Scroll to top