BERITA INDEX BERITA

Pemerintah Targetkan Produksi Kakao Meningkat hingga Tiga Kali Lipat

Humaniora | DiLihat : 1320 | Senin, 27 November 2017 15:02
Pemerintah Targetkan Produksi Kakao Meningkat hingga Tiga Kali Lipat

Jakarta - Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla (JK) menargetkan peningkatan produksi kakao di Tanah Air yang sebelumnya sekitar 600.000-700.000 ton per hektar per tahun menjadi 2 juta ton per hektar.

Sebagaimana diketahui, Wapres JK melakukan peletakan batu pertama pembangunan Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Kakao PT. Mars Symbioscience Indonesia, di Pangkep Cocoa Resort Station, Kelurahan Attang Salo, Kecamatan Ma'rang, Pangkep, Sulawesi Selatan (Sulsel), Sabtu (18/11).

Didampingi Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman, JK juga menyaksikan tiga penandatanganan nota kerja sama. Pertama, PT Mars Symbioscience Indonesia dengan Universitas Hasanuddin (Unhas). Kedua, PT Mars Symbioscience Indonesia dengan Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan. Ketiga, PT Mars Symbioscience Indonesia dengan Balai Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian (Kemtan).

Menurutnya, keberadaan pusat penelitian kakao di Pangkep diharapkan mampu menjadi solusi guna meningkatkan produktivitas kakao di Tanah Air, sehingga cita-cita menyaingi Brasil, Pantai Gading dalam jumlah produksi dan kualitas dapat tercapai.

"Modal lahan tersedia, iklim yang ada, petani yang sudah mempunyai kemauan yang keras maka upaya satu-satunya adalah bagaimana meningkatkan teknologinya lewat penelitian, percobaan, dorongan, penyuluhan, lewat bibit yang baik, pupuk yang baik, barulah kita bisa mencapai apa yang kita cita-citakan untuk naik peringkat dari tiga ke nomor dua, ke nomor satu dari  produktivitas kakao dunia ini," kata JK, Sabtu (18/11).

Namun, dalam pandangannya, pembangunan pusat penelitian kakao tak hanya berbicara mengenai peningkatkan produksi tetapi juga kesejahteraan masyarakat. Terutama, bagi masyarakat Sulawesi karena mayoritas perkebunan kakao yang ada di empat wilayah ini adalah perkebunan rakyat.

Ia mengandaikan produktivitas kakao meningkat sebanyak 1,5 juta ton maka pendapatan yang dihasilkan bisa mencapai Rp 9 triliun per tahun. Kemudian, itu dibagikan kepada masyarakat, mengingat mayoritas perkebunan merupakan plasma atau milik rakyat.

"Daerah baru bisa tumbuh ekonominya apabila ada nilai tambah dari masyarakat, ada uang masuk lebih banyak, ada ekspor lebih tinggi lagi. Itulah harapan saya kepada upaya ini," ungkapnya.

Secara terpisah, dalam sambutannya, Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo mengatakan bahwa dari delapan kabupaten yang menjadi pusat perkebunan kakao mampu menghasilkan lebih dari Rp 10 triliun per tahun.

"Kakao d iatas Rp 10 triliun penghasilannya. Ditambah ini (pembangunan pusat penelitian) bisa mencapai 3 kali lipat," ujarnya.

Tetapi, selain meningkatkan produksi kakao, Syahrul juga mengatakan bahwa pemerintah provinsi sedang berupaya meningkatkan produksi rumput laut.

"Kami mau menjadi penghasil rumput laut terbesar di dunia. 682 km sudah kami tanam. Rp 4 triliun lebih sudah mengasilkan," ungkapnya.

Sementara itu, Direktur Mars untuk Indonesia, Frank Mars mengatakan bahwa pembangunan pusat penelitian kakao di Pangkep ini dimaksudkan mengatasi masalah penurunan produksi kakao di dunia dan Indonesia khususnya.

Ia mengatakan bahwa berdasarkan data organisasi kakao internasional, produksi kakao Indonesia menurun 47 persen selama tujuh tahun terakhir menjadi sekitar 290.000 MT untuk musim panen 2016/2017.

Kemudian, diungkapkannya dengan nilai investasi sebesar US$ 4 juta atau setara dengan Rp 50 miliar, pusat penelitian nantinya akan menempati area seluas 95,2 hektar.

Selanjutnya, diharapkan mampu mengembangkan genetika kakao yang unggul dan tahan hama sehingga memperbaiki produktivitas kakao di Indonesia, Sulawesi khususnya.

suara pembaruan 


Scroll to top