BERITA INDEX BERITA

Bioindustri Tingkatkan Efisiensi untuk Kemandirian Ekonomi Petani

Pangan & Energi | DiLihat : 1578 | Rabu, 29 Agustus 2018 | 10:00
Bioindustri Tingkatkan Efisiensi untuk Kemandirian Ekonomi Petani

Jakarta - Program bioindustri yang diusung oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) telah diimpelementasikan oleh semua Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) yang tersebar di 33 provinsi. Salah satunya BPTP Bali yang menerapkannnya pada beberapa desa binaannya telah berhasil terasa manfaatnya. 

Kepala Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (BBP2TP) Haris Syahbuddin, mengapresiasi upaya BPTP Bali dalam menggiatkan program bioindustri di Provinsi Bali tersebut. Tim Bioindustri BPTP Bali masuk ke sejumlah lokasi binaan ini sejak tahun 2015. 

Haris juga optimis program bioindustri tingkatkan efisiensi biaya. Ia menilai pengembangan model bioindustri akan turut berperan dalam meningkatkan kemandirian ekonomi petani. "Melalui sistem pertanian bioindustri, tidak ada yang terbuang karena output satu sub sistem menjadi input bagi sub sistem lain. Limbah pun dapat diminimalisir, serta yang tak kalah penting, produksi dapat ditingkatkan," ujar Haris, dalam keterangan tertulis, Selasa (28/8/2018).Menurut Haris, sistem bioindustri dapat meningkatkan daya tahan terhadap kebutuhan energi, pangan dan berdampak terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat petani. Menurutnya, penerapan pertanian bioindustri terbukti telah memberikan manfaat dan kontribusi bagi semua pelaku mulai dari hulu hingga hilir.

Kegiatan Bioindustri yang dikembangkan Balitbangtan mengusung konsep yang sangat sederhana, yaitu integrasi tanaman dan ternak. Inovasi yang diperkenalkan oleh BPTP Bali ke petani binaan pun memiliki konsep yang sama, yaitu pemanfaatan limbah ternak menjadi pupuk organik untuk tingkatkan produktivitas sayuran, serta teknologi pakan untuk meningkatkan performa ternak sapi.

Dalam kunjungan Tim BPTP Bali beberapa waktu lalu, terdapat dua desa yang mendapatkan manfaat dari adanya embung. Diantaranya adalah Desa Antapan, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali, keberadaan embung telah terbukti sangat dirasakan para petani, terutama ketika sudah memasuki musim kemarau. Pembangunan embung di sentra produksi pertanian terbukti efektif tingkatkan produktivitas petani.

"kami tetap dapat menanam sayuran di luasan yang sama dengan saat musim hujan," ungkap Ketua Kelompok Setia Makmur, I Wayan Widana saat menerima kunjungan tim Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Bali beberapa waktu lalu. 

Selain itu, keberadaan embung juga berhasil tingkatkan efisiensi waktu petani dalam mengolah lahan. Sebelum ada embung, para petani di Desa Antapan, mengaku hanya sanggup mengolah sepertiga dari luasan lahan yang digarap. 

"Dulu waktu kita habis digunakan untuk mengangkuti air dari sumber yang letaknya cukup jauh. Sekarang jadi hemat waktu untuk bekerja menyiram tanaman," ungkap I Wayan Arsa, salah satu petani di desa yang berada di ketinggian 800 mdpl tersebut. 

Sementara itu, di Desa Bukti, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng. Para petani Desa Bukti mengungkapkan bahwa pengembangan pertanian juga sempat memiliki kendala dari sisi ketersediaan air. Tapi kemudian Kementan melalui BPTP Bali turut memfasilitasi pembangunan embung di desa yang berdataran rendah dan memiliki iklim kering tersebut. 

Selain itu, Kementan memfasilitasi pembangunan infrastruktur berupa sarana penampung air (atau embung), hidram (pompa air) untuk kelompok, dan kandang yang dilengkapi sarana produksi pupuk organik padat dan cair. Dengan semangat partisipatif, petani anggota juga mengeluarkan modal sendiri untuk mencukupi kekurangan bahan bangunan, seperti yang ditunjukkan saat pembangunan embung di Desa Antapan maupun Desa Bukti.

Embung di masing-masing desa Antapan dan Desa Bukti memiliki pola kepemilikan yang berbeda. Di Desa Antapan, Tabanan, kepemilikan embung bersifat beragam tergantung ketersediaan luas lahan petani, sedangkan embung di Desa Bukti, Buleleng umumnya dimiliki oleh kelompok tani. Contoh saja di Desa Antapan, Tabanan, satu petani memiliki 2 embung dengan kapasitas total 72 meter kubik mampu mengairi 6000 m2 lahan dengan 72.000 liter debit air yang dialirkan. Sementara di Desa Bukti, Buleleng, 8 embung yang dimiliki kelompok Kerthi Winangun, memiliki volume 840 meter kubik, serta dimanfaatkan oleh 32 petani.Penerapan model bioindustri ini terbukti efisien. Inovasi pupuk organik padat dan cair yang diolah oleh masing-masing petani untuk lahannya sendiri, misalnya telah menurunkan penggunaan pupuk dan pestisida kimia sebesar 40%.

Salah seorang anggota Tim Pengarah Kegiatan Bioindustri, Prof Pantjar Simatupang mengakui terkesan dengan praktik budidaya yang dilakukan petani di kedua desa tersebut. Ia menilai budidaya yang dikembangkan telah sesuai dengan konsep bioindustri. 

"Selain nampak integrasinya, terlihat pula sistem pertanaman yang baik, yaitu memilih "tanaman kompanion" atau tanaman serumpun," ungkap Pantjar.

Contoh kasus yang ditemukan di desa Antapan, di lahan yang sama seorang petani dapat secara bergantian menanam buncis, tomat, dan cabai. Dalam penanaman ketiga komoditas sayuran tersebut, penggunaan ajir hanya perlu 1 kali pemasangan saja. Hal ini menunjukkan pemilihan tanaman kompanion dapat menghemat pemakaian ajir.

detik

Scroll to top