BERITA INDEX BERITA
Kisah Pohon Cengkeh Tertua di Dunia yang Selamat dari Pemusnahan Belanda

Jauh sebelum kedatangan bangsa-bangsa Eropa di Ternate, Maluku Utara,
pada abad 15 silam, para pedagang dari Tiongkok dan Arab sudah bolak
balik ke Negeri Para Sultan itu. Tujuannya untuk membeli rempah-rempah
terutama cengkeh (Syzygium aromaticum) dan pala (Myristica succadewa
BL), yang kala itu harganya sangat mahal dan diminati di dunia.
Khusus cengkeh, ada jejak atau artefak buah pedas ini yang tersimpan di
lereng Gunung Gamalama, Ternate, tepatnya di Desa Air Tege-tege,
Kelurahan Marikurubu, Kecamatan Ternate Tengah, Provinsi Maluku Utara.
Kawasan berupa bukit ini tempat bertahtanya Cengkeh Afo, yang diyakini
sebagai pohon cengkeh tertua di dunia.
Walau tidak ada catatan sejarah khusus yang menceritakan asal muasal
pohon cengkeh di Ternate. Namun diperkirakan pohon cengkeh sudah ada
jauh sebelum pedagang-pedagang Cina dan Arab singgah ke Ternate. Ini
bisa dilihat dari pedagang Cina dan Arab yang telah memperdagangkan
komoditas ini hingga ke Eropa.
Menurut teori lain, cengkeh awalnya tidak dikenal oleh masyarakat
Ternate, namun diperkenalkan oleh orang-orang Cina. Kata “cengkeh”
berasal dari bahasa Cina, “zeng qi a“. Ini sejalan dengan kisah Kaisar
Han pada abad keempat yang memerintahkan semua tamu kerajaan untuk
mengunyah cengkeh sebelum bertamu agar mulutnya wangi.
Cengkeh saat itu adalah simbol kebangsawanan dan prestise, selain fungsi
biologisnya sebagai pewangi, penyedap, dan pengawet. Catatan sejarah
lain, pada 1.500 SM di era Babilonia, ditemukan sebuah bejana berisi
cengkeh dalam sebuah rumah.
"Ini menunjukkan betapa tuanya jalur perdagangan cengkeh. Dan, cengkeh
Afo adalah salah satu jejak sejarah cengkeh yang ada di Ternate. Malah,
cengkeh Zanzibar (Afrika) itu bibitnya berasal dari Ternate. Pada 1770,
bibit itu diselundupkan seorang warga Perancis ke Zanzibar," ujar Didit,
penggiat Komunitas Rempah Ternate dalam suatu kesempatan memandu tim
Jelajah Negeri Rempah mendaki bukit Cengkeh Afo.
Dalam bahasa Ternate, kata “Afo” memiliki arti “tua”. Ada pula versi
lain yang mengatakan bahwa kata “Afo” berasal dari kata 'Alfalat', nama
keluarga yang berhasil menyelamatkan pohon-pohon cengkeh saat eradikasi
(pemusnahan) oleh Belanda, yang di abad ke-16 berkuasa dan memonopoli
perdagangan cengkeh di Ternate.
Eradikasi dilakukan, lantaran mulai 1652 harga rempah-rempah di
pasar internasional mengalami penurunan tajam. Untuk mendongkrak
harganya, produksi dikurangi dan pohon-pohon cengkeh ditebang. Akan
tetapi, lebatnya pepohonan di gunung Gamalama, apalagi lokasinya yang
berada di ketinggian, memungkinkan ada pohon cengkeh yang luput dari
upaya eradikasi Belanda. Terlebih masyarakat lokal sengaja
menyembunyikan keberadaan pohon cengkeh jauh di dalam hutan bahkan di
atas pegunungan.
Cerita pemusnahan cengkeh tersebut juga dicatat dalam "Kepulauan
Rempah-rempah, Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250-1950" karya Adnan
Amal. Di mana, Belanda yang kala itu dengan kongsi dagangnya VOC
(Vereenigde Oostindische Compagnie) menginstruksikan eradikasi pohon
cengkeh di wilayah-wilayah yang kini masuk Provinsi Maluku Utara. Yang
tidak dikenakan eradikasi hanyalah pohon-pohon cengkeh yang tumbuh di
pulau Ambon dan Seram.
Untuk menjalankan rencana busuk tersebut, VOC berunding dengan Sultan
Mandar Syah, penguasa Kesultanan Ternate masa itu. Pada 1652, sebuah
perjanjian berhasil disepakati yang berisi klausula bahwa Mandar Syah
mengizinkan VOC melakukan eradikasi pohon cengkih. Dan
sebagai kompensasinya Mandar Syah menerima recognitie
penningen (pembayaran untuk suatu pelayanan yang pasti) yang besarnya
disepakati. Sementara rakyat pemilik pohon cengkeh yang ditebang
memperoleh ganti rugi amat kecil.
Kebijakan eradikasi pohon cengkeh mempunyai akibat luas pada rakyat di
pulau-pulau penghasil utama komoditas ini, seperti di Ternate, Moti,
Makian, Bacan, dan Tidore. Di daerah-daerah ini mulai timbul apatisme.
Para bobato (kepala desa) yang juga pemilik pohon-pohon cengkeh yang
selama ini menjual hasilnya sendiri, ditugaskan berlayar dari pulau ke
pulau mengawasi penebangan pohon-pohon cengkeh (hongi tochten). Mereka
bisa disalahkan bila ada pohon cengkeh yang tidak ditebang.
Selain memperoleh recognitie penningen, Sultan Mandar Syah juga
memperoleh bonus berupa bahan pakaian dan perhiasan yang mahal.
Sementara recognitie penningen yang semestinya diterima
para bobato secara tunai, diganti Sultan atau petinggi istana
dengan pemberian pakaian model India, perhiasan dan barang pecah belah
lain yang harganya jauh di bawah jumlah yang semestinya diterima.
Pendapatan para bobato sebelum dan sesudah penebangan pohon-pohon
cengkih menjadi amat merosot. Mereka lebih banyak bergantung pada sultan
dan kerajaan.
Wisata Jalur Rempah
Mendaki bukit Cengkeh Afo, Ternate Tengah, yang kini telah disulap
menjadi destinasi wisata jalur rempah terasa sangat menyenangkan.
Bagaikan mencumbu dan menyingkap kembali tabir kejayaan rempah-rempah
Nusantara tempo dulu.
Ada tiga pohon Cengkeh Afo di bukit ini, yakni Cengkeh Afo berusia 450
tahun, Cengkeh Afo II 300 tahun, dan Cengkeh Afo III berumur sekitar 200
tahun. Pohon cengkeh Afo I yang tingginya mencapai 36,6 meter, dan Afo
II yang tingginya memcapai 16 m, sudah roboh. Sisa potongan pohon yang
tumbang masih dibiarkan di tempatnya, dan dipagar.
Kini, yang tersisa cengkeh Afo III yang letaknya tak jauh dari gerbang
masuk bukit. Pohon cengkeh Afo III yang satu kali panen menghasilkan 260
kg memiliki garis lingkar 3,90 meter. Bibitnya yang sudah banyak
ditanam oleh petani di Ternate, terkenal kuat, tahan hama dan berbuah
lebat.
Selain pohon cengkeh, bukit yang memiliki ketinggian kurang lebih 600
meter dari permukaan laut (mdpl) ini juga ditumbuhi komoditas rempah
lain, yakni pala dan kayu manis, termasuk kelapa, cokelat, dan pinang.
Yang membuat perjalanan makin berkesan, pengunjung dimanjakan suguhan
kopi dan teh berbahan rempah, termasuk melihat langsung teknik memasak
Rimo-rimo yang dikerjakan sekelompok ibu-ibu. Rimo-rimo adalah aneka
makanan yang disajikan dengan proses pemanggangan di dalam ruas bambu,
dan diolah dengan campuran rempah-rempah terbaik dari Maluku Utara.
Pemerintah Kota Ternate mengharapkan keberadaan rempah-rempah di Ternate
dapat kembali menjadi daya tarik bagi masyarakat di seluruh penjuru
dunia berkunjung ke daerah ini, baik untuk berbisnis rempah-rempah
maupun untuk tujuan wisata. Salah satu upaya yang dilakukan untuk
mewujudkan harapan itu adalah mengembangkan Ternate menjadi destinasi
wisata rempah-rempah, tanpa mengabaikan pengembangan Ternate sebagai
destinasi wisata budaya dan sejarah, yang sudah dilakukan sebelumnya.
Pengembangan Ternate sebagai destinasi wisata rempah-rempah
diimplementasikan dalam berbagai program, di antaranya penataan dan
revitalisasi semua terkait dengan rempah-rempah, terutama penataan
kawasan wisata cengkeh Afo. Selain itu, melakukan peremajaan terhadap
seluruh tanaman cengkeh dan pala yang sudah tua, serta melarang
pengalihfungsian lahan perkebunan cengkeh dan pala.(sindonews)
















