BERITA INDEX BERITA
Bisa Sebabkan Gagal Panen, Waspadai Kanker Batang Buah Naga
ornamen | DiLihat : 1147 | Senin, 03 Agustus 2020 | 20:02

JAKARTA---Buah naga kini populer dibudiayakan di tanah air. Namun petani jangan menganggap remeh penyakit yang dapat menyerang tanaman tersebut, terutama kanker batang buah naga. Karena dapat menyebabkan gagal panen.
Buah naga memang bukan tanaman asli Indonesia, tapi ternyata cocok dibudidayakan di beberapa wilayah nusantara. Bahkan sekitar tahun 2012 banyak petani maupun pelaku usaha berinvestasi membudiayakan tanaman sejenis kaktus tersebut.
Dari berbagai penelitian, buah naga yang nama ilmiahnya Hylocereus polyrhizus ternyata syarat tumbuhnya sesuai dengan kondisi Indonesia. Beriklim tropis dan dapat tumbuh sampai ketinggian 800 meter dari permukaan laut.
Untuk daerah di sepanjang garis ekuator, buah naga dapat dipanen dari Januari sampai Desember. Daerah sentra pengembangan buah naga di Indonesia saat ini tersebar di beberapa provinsi.
Di Jawa Tengah berada do Wonogiri, Cilacap, Kudus, Rembang, dan Tegal, D.I Yogyakarta (Sleman, Bantul, Kulon Progo, dan Gunung Kidul), Jawa Timur (Banyuwangi, Jember, Lumajang, Gresik, dan Malang). Sedangkan di Jawa Barat (Subang, Bogor, Sukabumi, Sumedang, dan Bandung) dan Banten (Pandeglang dan Serang).
Sementara di luar Pulau Jawa diantaranya, Kalimantan Tengah (Pulang Pisau dan Kotawaringin Barat), Kalimantan Barat (Sambas), Kalimatan Timur (Kutai Kertanegara), Bali (Buleleng), Bengkulu (Kepahiang), Nusa Tenggara Barat (Lombok Timur dan Lombok Tengah), Maluku Utara (Halmahera dan Tidore Kepulauan).
Saat membudidayakan buah naga, petani harus memperhatikan beberapa penyakit yang bisa menggagalkan panen. Berdasarkan hasil survei Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika (Balitbu Tropika) Solok pada tahun 2013 dan 2015, sebagian besar pertanaman buah naga di Provinsi Kepulauan Riau (Batam dan Bintan) hancur terserang salah satu penyakit yaitu kanker batang.
"Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Neoscytalidium dimidiatum, dapat mengancam produksi buah naga di Indonesia karena bisa mematikan tanaman," kata Dirjen Hortikultura, Prihasto Setyanto.
Wilayah lain yang pernah terserang penyakit kanker batang adalah sentra pengembangan buah naga di Sumatera Barat, terutama di Kabupaten Padang Pariaman. Pada tahun 2016, hampir 50 persen pertanaman buah naga di Kalimantan Timur juga terserang dengan kategori ringan sampai berat. Masalah yang sama juga terjadi di Kabupaten Subang (Jawa Barat) dan Kabupaten Banyuwangi (Jawa Timur).
Direktur Perlindungan Hortikultura, Sri Wijayanti Yusuf, mengatakan bahwa keberhasilan Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) harus dilakukan secara terpadu, serentak, dan ramah lingkungan sesuai dengan Prinsip PHT.
Beberapa prinsip PHT yang penting dilakukan yaitu budidaya tanaman sehat, pengamatan agroekosistem secara rutin, serta pelestarian musuh alami. Hal itu akan berguna, sehingga petani dapat mengambil keputusan dalam melakukan pengelolaan OPT di lahannya.
“Kami terus mengingatkan petani untuk menggunakan bahan pengendali yang ramah lingkungan agar produk makin berdaya saing dan aman konsumsi,” kata Yanti.
Bagaimana mengenali tanaman buah naga yang terserang kanker batang dan cara mengendalikannya?
Penyakit kanker batang dapat menyerang bagian batang maupun buah. Gejala pada batang yang dimulai pada batang muda/sulur, adanya bintik-bintik/bercak-bercak putih seperti tusukan halus dan cekung pada bagian tengah.
Gejala lebih lanjut, bercak-bercak menyatu, berwarna kuning sampai kecokelatan dan membengkak (seperti bisul) meletus, kemudian akan mengeras, berwarna hitam dan mengering.
Gejala pada buah, terdapat bintik-bintik/bercak-bercak putih seperti gejala awal pada batang. Gejala lanjut pada buah, bercak-bercak menyatu menutupi permukaan buah, sehingga kulit buah menghitam dan kering.
Perkembangan penyakit dipengaruhi faktor cuaca dan kebersihan kebun dari sisa-sisa tanaman/bagian yang terserang. Curah hujan tinggi, apalagi sisa-sisa tanaman dan bagian yang tidak dimusnhkan sangat mendukung perkembangan penyakit. “Pengendalian sangat diperlukan, agar penyakit tidak berkembang,” kata Direktur Jenderal Hortikultura, Prihasto Setyanto.
Bagaimana cara mengendalikan penyakit kanker batang?
1. Budidaya secara ramah lingkungan, secara terpadu dengan melakukan monitoring gejala serangan awal.
2. Pemeliharaan tanaman secara optimal (pemupukan berimbang, pengairan cukup).
3. Sanitasi kebun dari sisa-sisa tanaman dan bagian tanaman yang terserang.
4. Bagian tanaman yang terserang dimusnahkan dengan cara membakar
5. Eradikasi selektif tanaman yang terserang ringan dengan pemotongan bagian tanaman yang terserang
6. Musnahkan dengan cara membakar.
7. Batang bekas potongan oles dengan Bubur Bordo.
tabloidsinartani
















